Pentingnya Akil Baligh Secara Bersamaan Day10

Pentingnya Akil Baligh Secara Bersamaan Day10

Tanda-tanda anak yang sudah memasuki fase akil atau sudah berakal adalah mengenal Tuhan-nya, bisa membedakan dan mengomunikasikan hal yang dia sukai dan tidak sukai, menjauhi sesuatu yang dia rasa berbahaya dan mengancam dirinya, mampu belajar dari pengalaman, mendengar perkataan dan mengikuti apa yang paling baik di antaranya apabila melihat kebaikan, ia pun mengikutinya, apabila melihat keburukan ia pun menjauhinya.

Tanda baligh dibagi beberapa kategori, yaitu berdasarkan usia, aktifnya organ reproduksi, sudah haid bagi perempuan.

Pentingnya aqil sebelum/ saat baligh yaitu:

  • Kematangan fisik saat baligh melahirkan nafsu, maka diperlukan aqil untuk mengendalikannya.
  • Untuk mempersiapkan diri agar mampu mengemban amanah khalifah untuk menjalankan visi hidup spesifik di bumi dibutuhkan keselarasan antara kematangan fisik dan akal, mental, dan spiritual.
  • Setiap diri memahami hak dan kewajiban sebagai hamba Allah, sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
  • Agar setiap diri siap memikul beban kehidupan seutuhnya seperti defenisi mukallaf itu sendiri.

Apa yang terjadi jika baligh tidak disertai aqil?

Sudah tentu, semua akan ambyaaaarrrr.

Permasalahan baligh non aqil seperti berikut:

  • Generasi muda yang krisis identitas diri (bingung menentukan tujuannya)
  • Problem oriented, tidak fokus mencari solusi
  • Perilaku kekerasan dan bullying
  • Penyimpangan perilaku seksual
  • Gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, galau, depresi.

Peran orangtua dalam keseimbangan aqil baligh, yaitu :

  • Orangtua harus menyadari pendidikan harus dikembalikan ke rumah
  • Didiklah anak anak di kehidupan nyata
  • Pendidikan yang berani, tega, tegas, dan konsisten. Bukan kasar dan keras.
  • Ajari anak sejak usia 7 tahun untuk bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri
  • Ajari anak menalar, berpikir, memecahkan masalah, mengambil kepitusan, dan menerima resiko dari keputusan yang ia buat.
  • Support anak untuk berorganisasi
  • Ajari anak untuk mencari nafkah, khususnya laki-laki
  • Kembalikan peran ayah dalam pendidikan anak-anaknya

Persiapan menuju aqil baligh ada beberapa hal, yaitu persiapan ideologi, psikologis, sosial dan kognitif.

Persiapan dan hal-hal yang perlu dijelaskan khusus anak perempuan, yaitu :

  • Ketika menstruasi apa yang terjadi, persiapannya, bagaimana membersihkan diri, hukum fiqihnya untuk muslim
  • Tanggung jawab perempuan yang sudah baligh
  • Perubahan bentuk tubuh, adab berpakaian menurut agama
  • Adab pergaulan dan resiko kehamilan
  • Kriteria memilih pasangan sesuai value yang dipegang
  • Mulai mengajarkan tugas sebagai istri dan ibu secara bertahap

Persiapan dan hal-hal yang harus diajarkan khusus anak laki-laki, yaitu :

  • Tanda pubertas secara fisik termasuk reproduksi sperma, serta kemungkinan terjadinya ejakulasi saat tidur, bagaimana membersihkan diri, dan hukum fiqihnya untuk muslim
  • Tangung jawab laki-laki yang sudah baligh
  • Perubahan fisik, cara merawat diri, berpakaian dan kebersihan
  • Adab pergaulan
  • Kriteria memilih pasangan
  • Mulai mengajarkan tugas sebagai suami dan ayah secara bertahap

Iklan
Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day9

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day9

Apakah yang menjadi tantangan para ayah di masa kini? Sebab, Indonesia sudah menjadi fatherless country. Apa sih fatherless country itu?

Yuk kita simak selanjutnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Elly Risman dari tahun 2008 – 2010, studi di 33 provinsi di Indonesia menyatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara paling “yatim” di dunia. Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai fatherless country setelah Amerika.

Fatherless country merupakan sebuah negeri yang ditandai keadaan atau gejala dari masyarakatnya berupa kecenderungan tidak adanya peran dan keterlibatan figur ayah secara signifikan dan hangat dalam kehidupan sehari-hari anak di rumah.

Tak jarang kita lihat Ayah berangkat kerja pagi hari sebelum anak bangun, lalu pulang malam hari ketika anak sudah tidur, waktu interaksi dengan anak sangat sedikit.

Mengapa Ayah juga harus berperan dalam pengasuhan?

Ayah yang berperan dalam pengasuhan dan pendidikan seksualitas anak akan membuat anak merasa aman, nyaman, dan tidak kehilangan sosok ayah saat tumbuh dewasa.

Adapun peran ayah dalam menumbuhkan fitrah seksualitas yaitu :

  • Sang ego dan individualitas. Ayah sebagai pendidik kemandirian, keberanian, kekuatan, kepercayaan diri, dan keyakinan.
  • Pembangun sistem berpikir. Ayah dengan rasionalitasnya membangun struktur berpikir dan inovasi dalam keluarga.
  • Raja tega. Bersikap tegas dan membatasi keinginan anak.
  • Penanggung jawab pendidikan. Peran ayah dalam mendidik adalah dominan. Ayah adalah seorang pemimpin, dan pemimpin memiliki visi dan misi yang jelas.
  • Supplier maskulinitas. Kedekatan ayah dan anak sesuai usia untuk menegaskan fitrah seksualitas anak.
  • Konsultan pendidikan. Update informasi dunia pendidikan, meluangkan waktu berkualitas untuk keluarga.

Peran Orangtua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas Day8

Peran Orangtua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas Day8

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah Based Education pada dasarnya mendidik anak sesuai dengan fitrahnya. Salah satu fitrah yang dibawa anak sejak lahir adalah fitrah seksualitas. Fitrah seksualitas yaitu bagaimana seseorang berpikir, bersikap, merasa sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati.

Apakah penting orangtua membangkitkan fitrah anak?

Tentu. Sosok ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak sejak lahir hingga aqil baligh agar fitrah seksualitas anak tumbuh dan berkembang.

Tujuan pendidikan fitrah seksualitas yaitu:

  • Anak mengetahui identitas seksualnya
  • Anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya
  • Anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Fitrah peran ayah dan peran ibu sebagai berikut:

Peran Ayah :

  • Penanggung jawab pendidikan
  • Man of vision and mision
  • Sang ego dan individualitas
  • Pembangun sistem berpikir
  • Suplier maskulinitas
  • Penegak profesionalisme
  • Konsultan pendidikan
  • The person of tega

Peran Ibu :

  • Pelaksana harian pendidikan
  • Person of love and sincerity
  • Sang harmoni dan sinergi
  • Pemilik moralitas dan nurani
  • Suplier femininitas
  • Pembangun hati dan rasa
  • Berbasis pengorbanan
  • Sang “pembasuh luka”

Tahapan pendidikan seksualitas :

  • Pra latih ( 0 – 2 tahun)
  • Pra latih (3 – 6 tahun)
  • Pre aqil baligh 1 (7 – 10 tahun)
  • Pre aqil baligh 2 (10 – 14 tahun)
  • Post aqil baligh (> 15 tahun)

Indikator jika fitrah seksualitas tumbuh kokoh dan sempurna

  • Usia 3 tahun identitas jelas, kelekatan terbangun kuat, bukan hanya bonding.
  • Ayah jadi figur idola anak lelaki, ibu jadi figur idola anak perempuan. Kelekatan dan cinta terbangun semakin kuat ( 7 – 10 tahun)
  • Menghayati peran seksualitas masing-masing (10-14 tahun)
  • Mampu menjadi ayah sejati dan ibu sejati dengan kemampuan mendidik yang baik (>14 tahun)
  • Sadar gender, bangga dan tegas terhadap gendernya
  • Siap menyambut pernikahan (>14 tahun)
  • Beradab dan berakhlak yang baik pada pasangan dan keturunan (>14 tahun).

Dampak jika fitrah seksualitas tidak dirawat dengan baik yaitu

  • Penyimpangan seksualitas
  • Tidak cakap berperan menjadi ayah, begitu pula dengan ibu
  • Terjadinya tindak kejahatan seksual pada anak
  • Fitrah gender anak tidak tumbuh sesuai mestinya
  • Tidak memahami perbedaan peran sosial lelaki dan perempuan
  • Jika anak perempuan tidak didekatkan dengan ayahnya dan anak lelaki ke ibunya maka anak tidak memperoleh idola lawan jenis pertama dari orang terdekatnya (10-14 tahun)

Pendidikan Seksualitas Sejak Dini Day7

Pendidikan Seksualitas Sejak Dini Day7

Salah satu fenomena yang terjadi saat ini banyaknya kekerasan seksualitas pada anak.

Merupakan PR besar bagi orang tua untuk memberikan pendidikan seksualitas sejak dini dan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak.

Pendidikan Seksualitas Berdasarkan Klasifikasi Usia

Usia 0 hingga 2 tahun yaitu :

  • mengenalkan nama anak
  • memberikan ASI ekslusif
  • mengenal orangtuanya, ayah dan bunda

Usia 3 hingga 6 tahun yaitu:

  • mengenalkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, seperti ayajlh adalah laki-laki dan ibu adalah perempuan.
  • mengenalkan silsilah keluarga
  • mendekatkan anak pada ayah dan bundanya
  • mengenalkan pada anak lingkungan sekelilingnya
  • menjelaskan pada anak siapa saja yang boleh dan tidak boleh memegang tubuhnya.

Mengapa harus mengenalkan keluarga besar pada anak?

  • agar ia tahu bahwa ia tidak hanya sendiri dan tidak hanya mengenal keluarga inti
  • mencari role model dan pengalaman yang berbeda
  • agar tetap menjalin silaturrahim pada keluarga

Beberapa Cara Mengenalkan Keluarga Besar

  • melihat album keluarga, lalu memceritakan siapa saja yang ada di dalam album dari keluarga ayah dan ibu, dimana tinggal dan apa profesinya.
  • membuat pohon keluarga
  • silaturrahim ke rumah nenek dan kakek atau kerabat lainnya, bermain bersama sepupunya.
  • mengenalkan lingkungan sekitar dengan cara bermain dengan tetangga atau bermain di luar rumah.

Bagaimana menunjukkan sikap sayang dan perhatian pada anak?

  • memberikan panggilan sayang pada anak yang menunjukkan jenis kelamin
  • melalui kemesraan orangtua di lingkungan keluarga

Kemesraan orangtua dapat berupa:

  • mengajarkan peran suami dan istri, bapak dan ibu di lingkungan keluarga.
  • menjadikan anak bahagia karena melihat orangtuanya mesra atau bahagia.
  • mengajarkan pada anak bahwa seorang suami dan istri saling menyayangi dan mencintai
  • mengajarkan sederhana cara mencintai dan memperhatikan pasangan hidupnya.

Waspada Terhadap Orang di Sekitar

Sejak usia dini anak-anak perlu diajarkan untuk:

  • mendorong rasa percaya diri anak agar bisa menjaga keselamatan dirinya sendiri
  • mengajarkan pada anak bahwa orang dewasa yang baru dikenal bisa saja berbuat baik
  • belajar untuk percaya oada naluri

Menurut salah satu guru sekolah dasar di California yang bernama Amber Ledergerber mengatakan “Bila seseorang menyuruhmu untuk menyimpan rahasia, katakan pada Ayah dan Ibu”

Pemahaman Perbedaan Gender Day6

Pemahaman Perbedaan Gender Day6

Gender adalah jenis kelamin. Jenis kelamin adalah sifat atau keadaan jantan atau betina.

Klasifikasi gender ada 3, yaitu:

  1. Gender biology, yang lebih dikenal dengan jenis kelamin.
  2. Gender identity, yaitu identifikasi pribadi/ perasaan psikologis seaeorang sebagai pria atau wanita.
  3. Gender expression, yaitu karakteristik seseorang yang dapat dilihat sebagai maskulin atau feminin

Perbedaan antara gender, seks, dan orientasi seksual

Makna seks merujuk kepada dua jenis kelamin yang ditentukan dari segi biologis, yaitu laki-laki dan perempuan.
Seks bersifat permanen dan tidak dapat dipertukarkan.

Makna gender merujuk pada perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya.

Orientasi seksual yaitu rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional terhadap jenis kelamin tertentu.

Jadi, gender, jenis kelamin, serta pola orientasi seksual merupakan tiga hal yang berbeda, tetapi bisa kita lihat keterikatan antar ketiganya.

Apa sih pentingnya mengenalkan gender pada anak?

  1. Anak mampu memahami identitas gendernya sendiri.
  2. Anak mengetahui area-area pribadi tubuhnya yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain.
  3. Paham peran dan tanggung jawab yang berbeda dari keduanya.
  4. Agar orientasi seksualnya benar.
  5. Tahu cara berinteraksi dengan lawan jenis, memahami perasaan, bagaimana berperilaku dan bersikap.
  6. Bisa berempati dengan lawan jenis dan pasangannya kelak.
  7. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  8. Agar terhindar dari penyimpangan seksualitas.

Tahapan mengenalkan perbedaan gender
Mengenalkan identitas gender dimulai saat anak usia 2 tahun, yaitu saat ia memiliki rasa ingin tahu perbedaan laki-laki dan perempuan.
Pada usia 4 tahun kebanyakan anak sudah tahu dan menyadari bahwa ia laki-laki atau perempuan.

Strategi mengenalkan gender ada beberapa hal, yaitu:

  1. Metode modelling
  2. Metode perlakuan
  3. Metode permainan peran/ dramatisasi

Memberikan pemahaman terkait gender dengan cara sebagai berikut:

  • Pendekatan melalui komunikasi kepada anak dengan bahasa yang dapat dimengerti.
  • Mengajarkan hal yang benar dan menjawab dengan jujur dan benar jika anak bertanya.
  • Memberikan alasan yang logis terkait mana yang bolej dan mana yang tidak boleh dilakukan.
  • Menanamkan sikap saling menghargai dan menghormati antar lawan jenis.
Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day5

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day5

Dalam buku Fatherman (Benru Jaisurahman), yang bisa dilakukan ayah adalah ini. Ayah berperan menjadi 7 sosok ini dalam mengasuh anak, agar anak merasakan ayah secara penuh.

Topi konselor
Topi Guru
Topi Pengasuh
Topi Motivator
Topi Entertainer
Topi Distributor/Promotor
Topi Donor/ Donatur

Semua peran ini bertujuan untuk membentuk mindset anak bahwa ayah adalah segala-galanya baginya. Menjadi role model yang akan membantunya dalam beragam urusan, kesulitan, dan kebaikan. Sehingga anak tidak perlu khawatir akan mencontoh pihak yang salah.

Apa Peran Ayah Sesungguhnya?

1. A Man of Mission and Vision
Para ayah adalah pembuat misi keluarga, yaitu peran spesifik keluarga dalam peradaban. Lihatlah di dalam Al-Quran bagaimana Nabi Ibrahim AS adalah sang pembuat misi keluarga. Misi keluarga beliau diabadikan dalam doa-doanya.

2. Pensuplai Ego
Seorang ayah diperlukan kehadirannya sebagai pensuplai Ego bagi anak-anaknya. Supply ego ini memberikan kemampuan “leadership” bagi anak, sementara ibu pemberi supply Emphaty atau “followership”.
Dengan hadirnya Ayah dalam keluarga akan memberi keteladanan melalui sikap-sikap yang berangkat dari fitrah keayahannya dengan menunjukkan ketegasan, pembelaan pada keluarga, ketegaan yang penuh cinta dll. Hal ini adalah supply ego yang berkesan bagi anak.

3. Pembangun Struktur Berpikir Dan Rasionalitas
Ayah dengan rasionalitas berfikirnya, berkontribusi membangun struktur berfikir bahkan inovasi di rumah atau di keluarganya. Sedangkan Ibu memberikan kemampuan emosional. Alangkah baiknya jika keluarga memiliki family knowledge atau kearifannya sendiri yang diwariskan turun temurun.

4. Pensuplai Maskulinitas
Para ayah diperlukan kehadirannya untuk memberikan suplai maskulinitas baik anak lelaki maupun anak perempuan. Ayah dan Ibu harus hadir sepanjang usia anak sejak 0-15 tahun (Aqil Baligh). Anak lelaki pada usia 7-10 tahun memerlukan lebih banyak kedekatan pada ayahnya untuk menguatkan konsep fitrah kelelakiannya menjadi potensi peran seorang lelaki sejati.

5. Ayah Sang Raja Tega
Pada usia 10 tahun ke atas, anak perlu diuji kemandirian dan keimanannya dengan beragam program. Para ayahlah sang raja tega yang mampu memberikan tugas-tugas berat untuk menguatkan potensi anak menjadi peran peradabannya kelak. Dalam hal ini ibu sebagai “sang pembasuh luka” yang memberi penawar bagi keletihan dan obat bagi luka dalam menjalani ujian.

6. Ayah Penanggungjawab Pendidikan
Sesungguhnya ayahlah penanggung jawab pendidikan yang merancang arah dan tujuan pendidikan keluarganya sesuai misi keluarganya. Ibu yang kelak mendetailkannya menjadi proyek atau kegiatan harian.
Secara fitrah bahasa, wanita lebih cerdas bahasa dibanding para lelaki. Wanita bicara 50rb sampai 70rb kata perhari, jadi ibu memang lebih banyak membersamai anak.

7. Ayah Konsultan Pendidikan
Melihat bahwa seorang lelaki “single tasking” dibanding wanita yang “multi tasking”, para ayah tidak bisa terlalu banyak turun dalam hal detail, bahkan mereka perlu lebih banyak berada di luar masalah agar bisa memberikan solusi yang jernih bagi para ibu yang dalam kesehariannya sudah dipenuhi banyak masalah dalam mendidik.
Para ayah yang tidak mau atau sulit terlibat dalam proses mendidik anak anaknya, umumnya adalah para ayah yang tidak selesai dengan dirinya atau tidak bahagia menjalani karirnya walau sukses sekalipun. Jadi mereka harus dibantu agar kembali fitrahnya dan banyak didoakan.

Apa Hubungan Pengasuhan dengan Fitrah Seksualitas Anak?

❤ Keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan anak, akan menjadi pelajaran bagi anak tentang peran gender.
Bahwa ada sosok ayah sebagai laki-laki, dan ada sosok ibu sebagai perempuan.
❤ Ayah yang terlibat dalam pengasuhan akan menjadi supply maskulinitas bagi anak.

(Sumber : https://epugi.wordpress.com/2019/08/12/peran-ayah-dalam-pengasuhan-untuk-membangkitkan-fitrah-seksualitas/)

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day4

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day4

Maa syaa Allah, sebenarnya ada banyak sekali insight yang di dapat di grup WAG Jakarta 2. Namu. Ada hal yang menarik yang akan saya coba tuliskan di Day4 ini.

Mitos vs Fakta pengasuhan ayah

Mitos 1: Ketika bayi, anak tidak memerlukan ayah.
Fakta: Marcus Jacob Goldman, MD dalam bukunya The Joy of Fatherhood (Three River Press, UK, 2000) memang menegaskan soal kedekatan hubungan antara ibu dan bayi, terutama bila bayi sedang menyusu. Pemandangan ini membuat ayah tidak yakin apakah si bayi memerlukannya. Untungnya, ayah zaman sekarang tahu cara yang tepat untuk mendekatkan diri pada buah hatinya, yakni dengan berani menggendong, mencium dan membelai si kecil.

Mitos 2: Ayah tidak tahu cara merawat anak.
Fakta: Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsend lewat bukunya Raising The Great Children (Zondervan, UK, 1998) mengatakan para ibu tak perlu khawatir karena pada kenyataannya ayah dapat merawat anak-anak sama baiknya dengan ibu karena semua ayah sebenarnya secara naluriah dikaruniai kemampuan untuk merawat anaknya. Tentu saja, seperti halnya ibu, ayah juga butuh waktu untuk belajar merawat buah hatinya, terutama ketika si kecil baru lahir. Ingat, para ayah juga butuh referensi agar terbiasa dengan perannya.

Mitos 3: Ayah yang penuh perhatian pada anak biasanya tak konsentrasi di jalur kariernya.
Fakta: Pria dibesarkan dan dididik untuk bekerja. Pekerjaan menjadi salah satu kunci dari rasa percaya diri mereka. Sayangnya, masyarakat menilai pria yang mengorbankan hidupnya dan lebih memilih keluarga daripada kariernya adalah mereka yang tidak sukses dalam pekerjaannya. Padahal menurut Cloud dan Townsend (1998), kini zaman sudah berubah. Banyak pria yang sangat menikmati perannya sebagai ayah. Peran ini sedemikian berarti dan meningkatkan status ayah. Perubahan status ayah ini justru dirasakan sebagai pemicu untuk lebih sukses dalam karier sehingga kian banyak kebutuhan anak yang dapat terpenuhi.

Mitos 4: Pola asuh ayah akan sama dengan ayahnya dulu.
Fakta: Biasanya pria akan mengikuti cara ayahnya dulu ketika sang ayah membesarkannya. Tapi pria sekarang juga berusaha menciptakan identitas dirinya sendiri sebagai seorang ayah. Para ayah modern berani mencontoh dan melihat role model dari media massa, lingkungan sosial, dan buku-buku pengasuhan. Mereka berani memilih yang terbaik bagi keluarganya dengan mengambil sisi positif dari keluarga di mana dulu dia dibesarkan. Demikian yang ditegaskan Daniel N. Hawkins, Paul R. Amato, Valarie King (2006) dalam Parent-Adolescent Involvement: The Relative Influence of Parent Gender and Residence” dalam Journal of Marriage and Family.

Mitos 5: Ayah tak mau mengorbankan pekerjaannya meski demi anak-anak.
Fakta: Dulu, ayah dianggap tidak pantas bila harus keluar dari pekerjaannya. Kini, pasangan modern semakin realistis. Bila karier ibu lebih maju, bisa saja ayah dengan sukarela meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus rumah dan anak-anak. Lagi pula banyak pekerjaan zaman sekarang yang bisa dilakukan di rumah oleh para ayah, semisal menjadi konsultan ataupun penulis. Hal ini dinyatakan Koray Tanfer dalam bukunya, The Meaning of Fatherhood. (Whitaker Aguse, UK, 2002).

Mitos 6: Ayah hanya meluangkan sedikit waktu bersama anak-anaknya.
Fakta: Penelitian yang dilakukan Richard Lamb (2002) di Amerika terhadap 3.500 ayah berusia 25-45 tahun membuktikan hal sebaliknya. Kini, semakin banyak ayah yang bersedia meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama anak-anaknya. Ketersediaan waktu tersebut diwujudkan dalam bentuk keterlibatan dalam pengasuhan anak, berinteraksi dengan anak dalam jarak dekat (ketika di rumah) maupun jarak jauh (memantau dari kantor) serta menemani anak belajar. Para ayah menyadari bahwa anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, berhak mendapatkan waktu lebih banyak, sama banyaknya dengan waktu yang disediakan ibu.

Mitos 7: Ayah tunggal pasti tak mampu mengasuh anak-anaknya.
Fakta: Ayah tunggal, entah karena perceraian ataupun kematian, kini banyak yang betul-betul siap mengasuh anak-anaknya sendirian. Mereka dengan terampil dan up to date mampu menyiapkan kebutuhan anak-anaknya dan mendidik mereka. Di Indonesia, menjadi ayah tunggal mungkin terbantu dengan banyaknya uluran tangan dari kerabat dekat. Toh di luar negeri pun seperti dikemukakan oleh Terry Arrendell dalam Divorce: It’s a Gender Issue, American Bar Association Family Advocate, Vol. 17, bahwa ayah zaman sekarang tampaknya tak canggung sendirian membesarkan anak-anaknya.

Mitos 8: Peran ayah tidak berubah selama dua dekade.
Fakta: Salah besar bila mengatakan peran ayah stagnan alias tak mengalami peningkatan. Nyatanya, temuan Louise B. Silverstein dan Carl F. Auerbach dalam artikelnya Deconstructing the Essential Father yang dimuat dalam Journal of American Psychologist, Vol.54, menyatakan begitu banyak peran tradisional yang dulu dipegang ibu, kini tak sungkan diambil alih oleh ayah. Kecuali hamil, melahirkan dan menyusui, ayah semakin jauh terlibat dalam kehidupan si anak. Coba saja perhatikan, para ayah ini menemani bermain, mendampingi belajar, makan bersama, bahkan menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.

Mitos 9: Ayah tidak dapat menggantikan peran ibu bagi anak perempuan.
Fakta: Apa pun jenis kelamin anaknya, ayah mampu menjadi role model yang tepat. Bagi anak lelaki, ayah menjadi contoh bagaimana berperilaku dan bersikap sebagai seorang gentleman. Sedangkan bagi anak perempuan, ayah merupakan contoh yang dekat dan sehat bagaimana dunia lelaki yang sesungguhnya sehingga anak perempuan tidak akan canggung ketika kelak menghadapi lawan jenisnya dalam pergaulan sosial. Demikian yang dikupas Piere Bronstein & C. P. Cowan dalam Fatherhood Today: Mens Changing Role In the Family. John Wiley & Sons, New York, 2002.

Mitos 10: Ayah hanya berkutat pada soal disiplin.
Fakta: Ayah memang sering dicitrakan sebagai pribadi kaku yang hanya mengedepankan soal disiplin dan keteraturan bagi anak-anaknya. Padahal sebenarnya, seperti yang disebut M.Y. Yogmen & Dwight Kindlon dalam bukunya Fathers, Infants and Toddlers (Harpers Parenting, New Jersey, 1998), ayah juga mampu bersikap hangat kepada anak-anak. Kehangatan itu ditunjukkannya dalam bentuk bermain bersama, menyiapkan makan malam bersama ibu dan menemani anak-anak belajar. Ayah modern justru enggan mencitrakan dirinya sebagai sosok yang dingin yang disegani dan dijauhi anak-anaknya.

Kompas.com (10 mitos tentang ayah).

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day3

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day3

Tujuan ayah dalam pendidikan seksualitas.

Ayah yang berperan dalam pengasuhan dan pendidikan seksualitas anak akan membuat anak merasa aman, nyaman, dan tidak kehilangan sosok ayah saat tumbuh dewasa.

Ayah memiliki peranan penting dalam pendidikan seksualitas agar anak dapat menumbuhkan sikap tegas dan disiplin mengenai gendernya sendiri, selain itu anak perempuan yang memiliki kedekatan dengan ayahnya sejak di usia dini akan merasa aman dan nyaman sehingga tidak mudah akan mudah terkena rayuan laki-laki yang tidak bertanggungjawab di saat anak beranjak dewasa.

Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak akan memiliki kemampuan sosial dan kognitif yang
baik serta kepercayaan diri yang tinggi pada anak. Peran ayah dalam pengasuhan yang dilakukan secara optimal berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Hasil riset membuktikan bahwa ayah yang hangat membuat anak mudah menyesuaikan diri, lebih sehat secara seksual, dan intelektualnya berkembang lebih baik.
Selain itu, anak lebih memiliki rasa humor, lebih percaya diri dan mempunyai motivasi belajar yang lebih baik (Vita, 2007, hlm. 11).

Ketika seorang ayah yang kurang berperan dalam menjalankan fungsi keayahannya akan membawa dampak yang buruk bagi anak. Terutama bagi perkembangan seksual maupun identitas seksual anak. Secara keseluruhan kehangatan yang ditunjukkan oleh ayah akan berpengaruh besar bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis anak, dan
meminimalkan masalah perilaku yang terjadi pada anak (Rohner & Veneziano, 2001).

Dari ayah, anak laki-laki belajar tentang peran-peran penting sebagai laki-laki, misalnya kepemimpinan, tanggungjawab, cara mengambil keputusan, mengatasi konflik dan hal lain yang penting ketika ia tumbuh dewasa dan menjadi kepala keluarga.

Dari ayah, anak perempuan belajar bagaimana cara seorang lelaki harus bersikap, mendapatkan kasih sayang dan penghormatan, rasa aman dan nyaman, sehingga ketika nanti berinteraksi dengan lawan jenis, ia tahu mana yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang lelaki dan mampu memilih pasangan yang tepat.

Kelimpahan kasih, penghargaan dan pujian dari sang Ayah, akan membuat putri kita tak mudah jatuh dalam rayuan gombal temannya. Yang mendekati putri kita hanya untuk kepentingan pribadinya. Putri kira tahu menilai mana pria yang bertanggungjawab dan mana yang tidak. Anak kita tidak kan sembarangan menyerahkan dirinya pada laki-laki yang integritasnya tidak jelas. Dia punya patron, pria yang baik seperti Ayahnya.
(Sumber: Kompas.com (Peran Ayah Membentuk Karakter Seks Putrinya).

Good fathering merefleksikan keterlibatan positif ayah dalam pengasuhan melalui aspek afektif, kognitif, dan perilaku. Ayah bertanggung jawab secara primer terhadap kebutuhan finansial keluarga. Ibu bertanggung jawab terhadap pengasuhan dasar. Bermain dengan anak, dukungan emosional, monitoring, dan hal yang
berkaitan dengan disiplin dan aturan cenderung dibagi bersama oleh ayah dan ibu. Lamb,dkk (dalam Palkovits,2002) membagi keterlibatan ayah dalam 3 komponen yaitu :

  1. Paternal engagement: pengasuhan yang melibatkan interaksi langsung antara ayah dan anaknya, misalnya lewat bermain, mengajari sesuatu, atau aktivitas santai lainnya.
  2. Aksesibiltas atau ketersediaan berinteraksi dengan anak pada saat dibutuhkan saja. Hal ini lebih bersifat temporal.
  3. Tanggung jawab dan peran dalam hal
    menyusun rencana pengasuhan bagi anak. Pada komponen ini ayah tidak terlibat dalam pengasuhan (interaksi) dengan anaknya.
    Palkovits (2002) menyimpulkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak memiliki beberapa definisi, diantaranya:
  4. Terlibat dengan seluruh aktivitas yang
    dilakukan oleh anak (McBride &
    Mills,1993).
  5. Melakukan kontak dengan anak
  6. Dukungan finansial
  7. Banyaknya aktivitas bermain yang
    dilakukan bersama-sama.
    Keterlibatan dalam pengasuhan juga diartikan sebagai seberapa besar usaha yang dilakukan oleh seorang ayah dalam berpikir, merencanakan, merasakan, memperhatikan, memantau, mengevaluasi, mengkhawatirkan
    serta berdoa bagi anaknya (Palkovits,2002).
    Menilik dari perspektif anak, keterlibatan
    ayah diasosiasikan dengan ketersediaan
    kesempatan bagi anak untuk melakukan
    sesuatu, kepedulian, dukungan dan rasa aman.
    Anak yang ayahnya terlibat dalam
    pengasuhan dirinya akan memiliki
    kemampuan sosial dan kognitif yang baik, serta kepercayaan diri yang tinggi
    (Palkovits,2002). Hal ini terjadi bila ayah
    mengembangkan model pengasuhan yang positif. Keterlibatan akan menimbulkan efek yang negatif apabila dalam praktek pengasuhannya, ayah menunjukkan perilaku negatif, dan melibatkan hukuman fisik.
    Dari hal diatas dapat disimpulkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan akan membawa manfaat besar bagi perkembangan anak, hanya apabila keterlibatan tersebut cocok, hangat, bersifat positif, membangun dan memfasilitasi anak untuk berkembang.

Sumber

Palkovitz, R. (2002). Involved fathering and child development: Advancing our
understanding of good fathering. In C.
S. Tamis-LeMonda & N. Cabrera (Eds.), Handbook of father
involvement: Multidisicplinary
perspectives (pp. 119 ± 140). Mahwah,
New Jersey: Lawrence Erlbaum
Associates.

McBride, B.A. & Mills, G. (1993). A
involvement with their preschool age
children. Early Childhood Research
Quarterly, 8, 457-477.

Farida Hidayati, Dian Veronika Sakti Kaloeti, Karyono. Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak : Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No. 1, April 2011. Hal:2

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day2

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas Day2

Di hari kedua ini, ketika memgerjakan Tantangan ke-2 kepala saya terasa pusing, sehingga harus terlambat mengerjakannya. Walau terlambat in syaa Allah tetap semangat membara untuk meraup ilmu dan insight di Grup WA Jakarta 2 Kelompok 16.

Insight yang saya dapatkan di hari kedua ini tentang makna dari bahasan tema yang kami ambil.

🌴 Apa itu pengasuhan?
➡️Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata pengasuhan adalah proses, cara, perbuatan mengasuh. Pengasuhan berasal dari kata dasar asuh.

➡️Menurut Masud Hoghughi, (Masud Hoghughi adalah direktur dari Aycliffe Centre for Children, County Durham Dan menyandang gelar sebagai anggota kehormatan sebagai Professor fakultas Psychology, University of Hull, Amerika) Menyampaikan : Pengasuhan merupakan hubungan antara orang tua dan anak yang multidimensi dapat terus berkembang. Mencakup beragam aktifitas dengan tujuan : anak mampu berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial.

Pengasuhan adalah segala tindakan yang menjadi bagian dalam proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua,.yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak yang dilakukan sejak awal anak dilahirkan hingga dewasa dalam rangka melindungi, merawat, mengajari, mendisiplinkan dan memberi panduan.

Tujuannya adalah untuk memfasilitasi agar anak mampu bertanggung jawab (mandiri) dan berkontribusi sebagai bagian dari masyarakat yang tidak pernah lepas dalam melaksanakan nilai-nilainya sebagai hamba Allah.(sesuai dengan jaman dimana mereka akan hidup) dengan melibatkan tiga kunci pengasuhan yaitu:

a. Upaya memenuhi kebutuhan anak untuk kesejahteraan jasmani, rohani, sosial dan emosionalnya. Dan melindungi anak, melalui menghindarkan dari potensi kecelakaan/ bahaya atau pelecehan.

b. Memberikan aturan dan memastikan bahwa aturan terkontrol serta mampu ditegakkan.

c. Mendukung anak, mampu mengembangkan potensi dalam dirinya.Dimana, jika hal ini dilakukan dengan benar, maka anak-anak dalam pengasuhan mampu menjadi generasi terbaik dan juga menjadi penyejuk mata serta hati orangtua.

(Source : https://pusatkemandiriananak.com/definisi-dan-pendapat-para-ahli-tentang-pengasuhan-parenting/)

🌴 Apa itu pendidikan seksualitas?
➡️ Menurut Psikolog, Nurul Chomaria, lewat bukunya ‘Pendidikan Seks Untuk Anak’, pendidikan seksualitas itu lebih ke totalitas pribadi. Apa yang dipercayai, rasakan, pikirkan, dan bagaimana bereaksi. Kemudian tampilan ketika kau berdiri, tersenyum, dan berpakaian.

Bismillahirrahmanirrahim

🌹Apa yang dimaksud pendidikan seksualitas?

Melansir dari Wikipedia pendidikan seksualitas adalah kegiatan untuk mengajarkan mengenai kesehatan reproduksi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual maupun penyakit menular dapat dicegah. Pendidikan seksualitas adalah tanggung jawab orang tua, tapi kebanyakan dari mereka menganggap ini adalah sesuatu hal yang sangat tabu untuk diajarkan kepada anak.

🌹Menurut dr. Zhara Vida pendidikan seksualitas yaitu menekankan informasi penting yang harus diterapkan sejak dini sesuai usianya. Harus bisa menjadikan anak laki-laki sebagai laki-laki yang benar, begitu juga dengan perempuan sebagai perempuan yang baik. Zaman sudah berubah dengan maraknya LGBT, pemakaian gadget yang bebas, sehingga pengaruh buruk dapat berseliweran dengan bebas menyapa anak kita. Oleh karena itu pendidikan seksualitas sangat diperlukan dan ditanamkan sejak dini pada anak kita khususnya.

Pendidikan seksualitas adalah upaya membimbing serta mengasuh seorang anak agar mengerti bahwa manusia yang diciptakan Allah terdiri dari dua jenis kelamin yang masing-masing memiliki sisi-sisi perbedaan. Bagaiamana memposisikan dirinya sesuai dengan jenis kelamin yang diciptakan Allah serta mengetahui bagaimana cara berinteraksi dengan jenis kelamin lainnya secara benar sesuai dengan tuntunan agama. (Source :https://journal.uir.ac.id/index.php/generasiemas/article/download/5383/2599/).

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas – Day1

Peran Ayah dalam Pengasuhan untuk Pendidikan Seksualitas – Day1

Dari perbincangan kami d WAG Jakarta 2, saya mengambil beberapa insight bahwa menurut Psikolog, Nurul Chomaria, lewat bukunya ‘Pendidikan Seks Untuk Anak’, Seks itu berhubungan dengan kelamin dan status jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Sementara seksualitas itu lebih ke totalitas pribadi. Apa yang dipercayai, rasakan, pikirkan, dan bagaimana bereaksi. Kemudian tampilan ketika kau berdiri, tersenyum, dan berpakaian. Dengan kata lain seksualitas lebih ke pembentukan karakter secara personalnya sesuai dengan fitrah gendernya.

Jadi lebih pada mengajarkan anak memahami, memaknai, dan berperilaku sesuai seksualitasnya, termasuk adab-adab apa yang butuh diketahui anak seputar seksualitasnya. Sesuai dengan materi kemarin juga yang bisa kita bahas bukan hanya dari sudut pandang biologis, perkembangan psikologis, agama, sosial, dan kultural.

Terkadang orang salah paham mengatakan bahwa pendidikan seks itu mengajarkan tentang seks semata padahal yang harus diajarkan itu holistik yang disesuaikan juga dengan usia anak dan tentunya peran kedua orang tua.

Berarti untuk peran ayah itu sendiri, ada kaitannya dengan usia yang kalau anak perempuan harus dekat dengan ayahnya usia 7 sampai 12 tahun, agar ia mengenal sosok pria idamannya. Sementara untuk laki-laki dekatkan dengan ayahnya di usia 3 sampai 7 tahun, agar ia mengenal bagaimana cara bersikap sebagai laki-laki.

Beliau juga membagi bahwa pendidikan seks dan seksualitas ini dibagi dalam beberapa tahap, yaitu:

  1. Baru lahir hingga pra remaja
  2. Ketika anak mengalami masa remaja
  3. Ketika Dewasa

Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 – 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Ketika usia 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah sholat.

Maka bagi para Ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, bermain dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki dewasa atau suami yang kasar, egois, dan sebagainya.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya (Disarikan dari Buku “Fitrah Seksualitas oleh Ustadz Harry Santosa).